Senin, 08 Agustus 2011

Kehidupan Umpama Roda



 

Kehidupan Umpama Roda
"Guru, saya pernah mendengar kisah seorang lelaki arif yang pergi jauh dengan berjalan kaki. Cuma yang aneh, setiap ada jalan menurun, lelaki arif konon agak murung. Tetapi kalau jalan sedang mendaki ia tersenyum. Hikmah apakah yang dapat saya petik dari kisah ini?"
"Itu perlambangan manusia yang telah matang dalam meresapi asam garam kehidupan. Itu perlu kita jadikan cermin. Ketika bernasib baik, sesekali perlu kita sadari bahawa satu ketika kita akan mengalami nasib buruk yang tidak kita harapkan. Dengan demikian kita tidak terlalu bergembira sampai lupa bersyukur kepada yang Maha Pencipta. Ketika nasib sedang buruk, kita memandang masa depan dengan tersenyum optimis. Optimis saja tidak cukup, kita harus mengimbangi optimisme itu dengan kerja keras."
"Apa alasan saya untuk optimis, sedang saya sadar nasib saya sedang jatuh dan berada dibawah."
"Alasannya ialah iman, karena kita yakin akan pertolongan yang Maha Kuasa."
"Hikmah selanjutnya?"
"Orang yang terkenal satu ketika mesti bersiap sedia untuk dilupakan, orang yang diatas harus siap mental untuk turun kebawah.
"Orang kaya satu ketika harus siap untuk miskin.
"Orang sehat mesti ingat akan sakit"
"Orang muda mesti bersiap untuk hari tua"
"Orang hidup mesti bersiap untuk mati"
Lantaran kita berasal dari tanah dan kembali menjadi tanah.... bukankah itu suatu putaran roda.
==========================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 3 . Hal. 869-870. ISBN 978-6028-686-402.

Jumat, 05 Agustus 2011

angan tak berujung





Mimpi mimpi yang telah di bangun , angan yang telah terukir , sirna dalam sekejap mata , tak menyisakan bekas yang berguna..
Harumnya duniawi , nikmatnya aroma fana , memasung jiwa dengan ikatan rantai fatamorgana..
Terbuai angin surga , tergoda kemilau harta , membius sukma dalam bayangan semu semata..
Terlena akan nafsu yang merajai dan bertahta di singgasana keangkuhan rasa , egoitisme berjubahkan malaikat , bermahkotakan permata dewa..


Fajar telah hilang , senja pun berlalu , hanya gelap menyelubungi pekatnya malam..
Dewi malam meratap bimbang , sekumpulan bintang menangis kencang , kabut pun selimuti alam..
Rembulan pucat melirik diam diam , galau bercampur resah , mengintip dari balik celah awan hitam..
Fenomena nuansa alam , bersenandungkan lagu kesedihan , menerikan tarian kematian..


Lengkingan suara suara sumbang , berteriak dari lembah lembah kegelapan..
Tembang kepiluaan , riuh terdengar , berbunyi nyaring dalam mengungkap tabir di sepertiga malam..
Terbukalah gerbang dosa , tersingkap sudah tirai kepalsuaan , yang dulu pernah ada dan tersimpan..
Hanya sesal yang kini tertinggal , dalam kelamnya bayangan masa yang silam..

Sabtu, 30 Juli 2011

Bulan Sya'ban

“Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulannya umatku. Siapa yang berpuasa satu hari di bulan Rajab, Allah akan memberinya surga dan dia akan dijauhkan dari kemarahan Allah, dan akan ditutup baginya pintu neraka.”

“Sesungguhnya Sya’ban adalah bulanku, siapa yang berpuasa sehari dalam bulan itu, maka surga baginya.”

 “Siapa yang berpuasa di bulan Sya’ban karena cinta pada Rasulullah dan taqarrub ilal-Lah (keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah), dan keinginan untuk mendekatkan diri pada kemuliaan bulan ini, pada hari akhir nanti, dia akan dikaruniai surga.”

Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban
Dari A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.
Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).

Kapas

 



Putih bersih dan ga akan ada noda na kalo kita bukan kita yang buat. Tapi aku lebih senang melihat kapas putih itu tetap putih bersih sampai akhir nanti. Putih melambangkan sebuah kejujuran dan kejujuran itu buahnya sangatlah indah. Indah dan sungguh sangat indah...

Pertama bertemu sungguh sangat indah melihatnya tetapi setelah sekian lama akhirnya keindahan itu perlahan mengabur karena kebohongan dan topeng yang menyelimuti perlahan menampakkan wujud aslinya. Sungguh sangat tidak enak melihat pemandangan yang menyakitkan mata itu. Kapas putih dan bersih yang dulu telah berubah menjadi sebuah kapas yang kotor dan penuh dengan debu...

Rasanya sulit sekali tuk membersihkannya tetapi dalam hidup ini ga akan pernah ada yang ga mungkin kalo Allah sudah berkehendak. Kapas putih nan bersih itu bisa kembali lagi seperti semula asalkan ada sedikit saja orang yang mau membersihkannya dari semua kotoran dan debu yang hinggap di dirinya. Karena jati diri dan semua yang ada di kapas itu telah tertutup oleh segumpal debu yang menyelimutinya...

Andai kapas tersebut bisa kembali putih dan bersih...
Tenang hati ini melihat semuanya menjadi putih tanpa ada debu...
Layaknya kejujuran yang tak pernah ditutupi oleh sebuah kemunafikan dan pengkhianatan...

Kamis, 28 Juli 2011

sambut ramadhan


 

Harum Ramadhan mulai tercium ,kesejukannya mengetuk hati orang yang ingin merajut sejuta bahagia...Jika ada gores luka karena tingkah laku,ada ucapan berbunga dusta..Maka mohon untuk dimaafkan lahir dan bathin...Selamat menyambut bulan yang penuh rahmat,berkah dan ampunan..MARHABAN YAA RAMADHAN...!!!

Minggu, 24 Juli 2011

Mengapa Teriak?

 


Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;
"Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?" Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab; "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.
Sang guru lalu berkata; "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."
Sang guru masih melanjutkan; "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?"
Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban
==========================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 3 . Hal. 792-793. ISBN 978-6028-686-402.

Selasa, 28 Juni 2011

Proses

 


Jalan hidup yang dilalui setiap orang tidak ada yang sama........semua orang sudah digariskan hidupnya oleh Tuhan untuk menjalani proses yang membentuk hidup kita untuk lebih bijaksana, dewasa & berharap hanya kepada Tuhan.
Satu hal yang saya tahu, terkadang kita tidak pernah bersyukur buat apa yang kita alami. Kita selalu mengeluh dan bilang Tuhan tidak adil..Tuhan tidak sayang saya.......dan sebagainya yang intinya kita lebih banyak menyalahkan Tuhan, tanpa melihat ada apa dibalik semua peristiwa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita.............
Kali ini saya belajar banyak untuk terus mengucap syukur apapun yang terjadi dalam hidup saya............
Hidup saya terbelit hutang mulai dari saya menikah dua tahun yg lalu sampai dengan hari ini saya masih mencicil hutang-hutang tersebut (yang kalau saya kisahkan di sini apa yg menjadi penyebab hutang tsb, akan sangat panjang)
Singkat kata saya sering mengalami stress karena hutang tersebut, terlebih dengan penghasilan saya & istri yg pas-pasan dan habis untuk membayar hutang, sehingga terkadang kami harus pintar-pintar gali lobang tutup lobang istilahnya untuk membiayai hidup sehari-hari karena, jujur, gaji kami berdua tidak bisa menutupi kebutuhan sehari-hari dengan anak tiga dan hutang yg bertumpuk
Hingga satu hari saya memutuskan akan meminjam uang pada perusahaan tempat saya bekerja belum genap satu tahun. Pada saat saya menghadap pimpinan saya dan megatakan keperluan saya ingin meminjam uang sejumlah 1 juta, beliau bicara dengan keras bahwa kantor ini bukan bank dan kalau dia mulai meminjamkan kepada saya maka orang lain akan datang kepada dia untuk melakukan hal yang sama dll yang isinya begitu membuat saya malu & menangis di dalam hati.
Memang pada akhirnya dia memberikan pinjaman tersebut, dan saya tidak menyalahkan pimpinan saya atas semua perkatannya, cuma saya merasakan malu yang amat sangat dan merasa sepertinya saya gak layak menerima semua perkataan dia hanya untuk uang 1 juta.
Hampir saya membatalkan pinjaman saya kalau bukan karena teman kantor saya yang menasehati. Namanya kita sebut saja Lina, begitu saya keluar dari ruang pimpinan, saya menangis dalam hati. Melihat kesedihan saya karena kebetulan meja dia berdekatan dengan saya. Dan dia cuma berkata, " Sudah, tiak usah dipikirkan. Kamu kan melakukan semua ini bukan untuk foya-foya, toh kamu melakukan semuanya untuk keperluan keluarga kamu dan kamu tidak berbuat salah. Mungkin ini memang saatnya kamu harus mengalami hal seperti ini ya sudah kamu jalani. Saya tahu bagaimana perasaan kamu, tapi selama kamu merasa tidak berbuat salah, jalani saja"
Saya sempat protes " Saya malu Lina. Memang kamu pernah mengalami hal seperti ini ?"
" Semua orang pernah lagi mengalami PROSES seperti ini meskipun caranya berbeda-beda. Saya pernah mengalami dimana teman-teman saya mengumpulkan uang untuk operasi saya karena saya sudah tidak punya uang lagi"
" Operasi ? Operasi apa na ?"
Dia cuma tertawa dan dia berkata " Saya pernah operasi tumor 2 kali. Sampai saat ini saya tidak pernah haid dan tidak bisa punya anak"
" Memang operasinya sebelum apa sesudah nikah (karena saya tahu dia punya anak perempuan 1)"
"Sebelum nikah"
" Loh, terus anak kamu yg sekarang ?"
" Dia saya adopsi 5 tahun yg lalu saya harus menjalani semua proses operasi & kemoterapi karena tumor tersebut. 2 kali saya harus mengalaminya karena ternyata setelah operasi pertama tumor tersebut tumbuh lagi & rahim saya harus diangkat"
Masih dengan tersenyum dia melanjutkan; "Ayah saya cukup berduit sebelum saya sakit, tapi semua habis setelah saya sakit. Malah pernah satu hari ketika saya sakit, pagi-pagi ayah saya tanya mau makan apa, saya bilang mau makan soto dan dia cuma bisa diam. Saya tanya kenapa? Dan dia jawab bahwa dia tidak punya uang. Ya sudah kita beli roti aja yg suka lewat di depan rumah. Soto harga 2500 perak, ayah saya tidak bisa membelikannya untuk saya yg sedang sakit. Dan seumur hidup saya baru hari itu saya lihat ayah saya menangis karena tidak bisa membelikan makan anaknya yg sakit.
Saya kembali menangis, bukan karena rasa malu saya lagi...tapi karena saya melihat ternyata ada yg pernah mengalami proses yg lebih sulit dari yg saya alami. Saya malu. Bukan karena omongan pimpinan saya, tapi karena menjadi cengeng atas hal yg ternyata kecil sekali dibandingkan dengan apa yang teman saya alami. Saya tidak pernah mengira bahwa teman saya yg selalu ceria ternyata pernah mengalami saat-saat yang begitu sulit.
Tapi ceritanya menyadarkan saya. Bahwa memang ada proses yang harus dijalankan oleh setiap orang di bumi ini. Bukan untuk mendatangkan kecelakaan tapi untuk mendatangkan hal-hal yang baik buat hidup kita selanjutnya kalau kita berhasil melalui proses tersebut dengan tegar.
Apapun yang anda alami, pandang itu sebagai proses menuju kebaikan yg sudah Tuhan sediakan buat anda. Coba lihat orang lain, dan mengucap syukur karena Tuhan selalu mengijinkan sesuatu terjadi tanpa melebihi kekuatan yang kita miliki, mengucap syukur karena Tuhan masih menyertai kita.
Semoga kisah nyata ini bisa menjadi berkat dan memberikan kekuatan kepada anda yang mungkin sedang mengalami masa-masa sulit.........Tuhan mengasihi….
========================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 3. Hal. 567-570. ISBN 978-6028-686-402.